Menyapih Tanpa Drama

mtf_gzvMU_783.jpgMenyapih adalah hal yang menantang, mengharukan sekaligus menyenangkan. Paling tidak itulah yang saya rasakan setelah menyapih dua orang anak dengan pengalaman yang berbeda. Anak pertama saya disapih ketika berusia 8,5 bulan karena kondisi kesehatannya, ia pun berpulang kepada Tuhan setelah berjuang melawan Encephalitis yang di deritanya. Saat menghadapi kehilangan anak saya tidak siap menyapih dan ASI saya pun masih berproduksi, sehingga tidak ada pilihan yang lebih baik selain mendonorkan ASI setelah kepergian anak pertama saya. Momen itu tidak mudah untuk dilalui, namun saya mendapat kesempatan kedua untuk kembali menyusui. Anak kedua saya kini telah berusia 25 bulan dan sudah berhenti minum ASI setelah melalui proses menyapih dengan tanpa drama.
Saya sering membaca dan disarankan untuk menyapih dengan cintaweaning with love. Tidak ada definisi yang baku mengenai hal ini. Sudah tentu orang tua mencintai anaknya dalam kondisi apa pun termasuk menyapih. WHO memang merekomendasikan pemberian ASI ekslusif sampai usia 6 bulan kemudian bersamaan dengan pemberian MPASI menyusui dapat dilanjutkan sampai usia 2 tahun atau lebih. Namun saya percaya bahwa setiap anak unik begitu pun ibu dan ayahnya sehingga saat menyapih yang tepat bisa saja berbeda untuk masing-masing keluarga. Proses menyapih yang dilandasi cinta dan diharapkan tanpa drama dapat dilakukan melalui komunikasi yang baik dan intensif antara ibu, ayah dan anak.
Berdasarkan pengalaman saya menyapih ada beberapa langkah yang dapat membantu proses menyapih tanpa drama atau paling tidak meminimalisir drama, sebagai berikut:
1. Ikhlas hati dan persiapan mental
Ibu saya selalu bilang "...supaya anakmu tenang kamu harus tenang..."
Kata-kata itulah yang selalu saya coba terapkan ketika berhadapan dalam situasi apa pun bersama si anak. Berkomunikasi dengan Tuhan dan menarik napas panjang adalah salah satu cara yang paling efektif yang saya temukan ketika berada dalam situasi yang membuat tidak tenang, selanjutnya menjaga pikiran agar tetap tenang dan positif. Memang seringkali hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan misalnya saat pertama kali menyusui dan saat menyapih.
Jika ketika menyapih anak pertama saya 'dipaksa' siap oleh situasi, saat menyapih anak kedua saya siap atas pilihan sendiri. Kesiapan hati dan mental merupakan modal awal suksesnya menyapih tanpa drama. Setelah menyakinkan diri bahwa menyapih adalah keputusan yang tepat lalu saya berdiskusi dengan suami sebagai partner andalan. Suami pun perlu menyiapkan hati dan mental karena nantinya dalam proses menyapih perannya sebagai ayah sangat besar. Ibu dan ayah yang sudah siap hati dan mentalnya akan dapat lebih baik dalam membantu anak melalui proses menyapih tanpa drama, sehingga hasilnya hati dan mental si anak juga akan siap.
Menyapih memang mengharukan namun perlu dijaga jangan sampai prosesnya menjadi penuh kegundahan dan air mata. Menyapih sama halnya dengan menyusui sangat bijak dilakukan dengan ikhlas hati dan persiapan mental yang baik.
2. Menentukan deadline
Saya dan suami sudah berdiskusi sejak awal untuk menyusui si anak sampai usia 2 tahun. Deadline ditentukan oleh situasi dan yang terpenting kesiapan hati dan mental yang tentunya berbeda bagi masing-masing keluarga. Jadi bukannya tidak mungkin deadline bergeser menjadi lebih cepat atau lebih lama dari target yang sudah ditentukan. Ibu-ibu yang saya kenal menyapih anak-anak mereka ketika tepat berusia 2 tahun, tapi tidak jarang juga saya temukan ibu-ibu yang menyapih anak mereka ketika berusia 1 tahun dan bahkan ada beberapa ibu yang masih menyusui anak mereka yang sudah berusia lebih dari 3 tahun. Anak-anak pun berbeda-beda ada yang bisa menyapih diri mereka sendiri tanpa usaha yang berarti dari orang tuanya dan ada yang membutuhkan usaha lebih. Sehingga rasanya tidak perlu khawatir dengan pendapat orang lain tentang saat yang tepat untuk menyapih, masing-masing keluarga memiliki saatnya sendiri.
3. Sosialisasi bertahap
Menurut pengalaman, menyapih tidak bisa dilakukan secara mendadak. Bukan saja masalah kesiapan hati dan mental tapi juga berhubungan dengan kondisi fisik yaitu produksi ASI. Ketika saya mendadak harus menyapih, fisik saya pun tidak siap sehingga ASI saya masih terus berproduksi bahkan sampai 4 bulan setelah berpisah dengan anak pertama saya. Ketika anak kedua, saya dan suami bersama-sama melakukan sosialisasi bertahap setelah si anak berusia 1 tahun dengan cara sebagai berikut:
Memperkenalkan minuman lain selain ASI
Setelah ulang tahun pertama, si anak boleh mengkonsumsi susu UHT. Jurus ini tidak membuat ia serta-merta berhenti minum ASI tapi memperkaya pilihan minumannya selain air putih, air madu dan jus buah. Jadi si anak sudah punya alternatif minuman yang bisa dipilihnya sendiri sebagai pengganti ASI ketika di sapih. Sebelum di sapih saya sudah membiasakan si anak untuk minum air putih ketika terbangun di malam hari. Lalu saat mulai di sapih, saya menyediakan UHT selain air putih di kamar.
Minum ASI berjadwal
Seiring dengan bertambahnya usia si anak selera makannya meningkat dan pilihan makanannya lebih bervariasi. Si anak lalu mulai dialihkan dari menyusu dengan jadwal sesukanya menjadi terjadwal. Jadwal ini juga membantu kesiapan ibu dan anak untuk menyapih bertahap dan tidak mendadak. Makin dekat dengan hari-H menyapih maka frekuensi menyusu semakin dikurangi. Buat saya yang paling menantang adalah ketika tidur siang karena saat itu ayahnya biasanya belum pulang dan menyusu menjadi utama untuk memberi rasa nyaman sebelum tidur. 
Pelukan dan bicara
Bagi si anak menyusu adalah tentang rasa nyaman dan aman. Mendekati usia 2 tahun perkembangan bicara si anak semakin meningkat. Cukup banyak kata-kata yang sudah bisa ia katakan tentang hal apa yang menjadi kesukaannya dan hal apa yang mengganggunya. Setiap hari si anak di stimulasi berbicara untuk menyampaikan keinginannya dan bercerita tentang kegiatan yang dilakukannya sehari-hari. Seperti pilihan sarapannya, nama teman-teman sekolahnya, mainan di sekolah, pilihan buku cerita, dll. Ia juga ditanya tentang perasaannya terhadap sebuah kejadian misalnya berebut mainan dengan teman, atau setelah memberi makan ikan, dll. Saya dan suami juga lebih sering memberinya pelukan terutama jika ia sedang merasa tidak nyaman namun masih kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya. Pengalaman saya saat hari-H menyapih si anak membutuhkan pelukan lebih banyak lagi dari sebelumnya.
Waktu ayah dan anak
Sejak lahir, mandi pagi adalah ritual bersama ayah dan anak, sampai sekarang pun hal itu masih dilakukan. Kemudian pada waktu tidur si ayah akan mengusahakan pulang sebelum anaknya tidur untuk bermain dan membaca cerita. Anak-anak juga perlu tahu kalau ayah adalah orang selain ibu yang juga sayang padanya. Menghabiskan waktu bersama adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa sayang ayah kepada anak. Kebetulan pada saat awal menyapih saya harus pergi ke luar kota dan menginap semalam mencari bahan tulisan untuk artikel di sebuah majalah. Suami saya mengizinkan dan menyanggupi sehari semalam menghabiskan waktu bersama si anak. Ketika pulang si kecil menyambut saya dengan gembira, padahal sebelumnya saya sempat berpikir ia akan marah. Saat itu saya dan suami yakin bahwa si kecil sudah siap untuk disapih. Selama beberapa hari sebelum disapih ia tidur dengan ayahnya dan akan menyusu hanya ketika pagi dan siang hari. Pada hari-H menyapih saya kembali tidur malam bersama dan meyakinkan si anak kalau ibu dan ayah sayang kepadanya. Kami mengingatkan si anak tentang hal-hal menyenangkan yang dilakukan bersama.
4. Reward without punishment
IMG_20150511_083439Setelah melalui hari tanpa ASI esok paginya si anak akan diberikan sticker bergambar mainan favoritnya sebagai reward. Kalau ia masih belum berhasil, saya dan suami akan mencobanya lagi esok hari dan mengingatkannya akan reward yang akan di dapat jika bisa melalui hari tanpa ASI. Jadi tidak ada punishment yang akan diberikan dan memang tidak perlu.
Hari ini genap satu minggu si anak berhenti minum ASI. Proses menyapih berjalan tanpa drama dan terbilang cukup lancar dengan bonus cerita-cerita panjang, mainan-mainan seru dan banyak pelukan. Sebelumnya menyusui merupakan senjata andalan saya dalam mengatasi kegundahan si anak yang kadang penyebabnya tidak bisa dijelaskan. Kini saya bisa memberikan rasa nyaman tanpa perlu menyusui si anak. Menyapih adalah sebuah proses  yang menantang, mengharukan sekaligus menyenangkan.

No comments:

Powered by Blogger.